Saat ini, di tahun keempatnya, ReelOzInd! kembali menghadirkan cara yang baru dan menarik bagi Indonesia dan Australia untuk membagikan cerita mereka dan memulai percakapan. Hanya dalam waktu tiga tahun festival ini telah menjangkau lebih dari 60 komunitas di kedua negara. Mitra penyelenggara telah bergabung untuk menayangkan film-film dan berdiskusi di Aula, ruang-ruang kelas, kafe dan bioskop. ReelOzInd! menyatukan individu-individu, memicu ide-ide baru dan membangun koneksi-koneksi baru.

Pada 2018 untuk pertama kalinya Kompetisi dan Festival Film Pendek ReelOzInd! menerima lebih dari 100 film dari sutradara Indonesia, yang unggul dalam pengiriman dan hadiah kompetisi. Pada 2019 pendaftar Australia bertambah sehingga pada akhirnya kami memperoleh total lebih dari 200 pendaftar dan hadiah dibagi secara merata. Tahun ini festival keliling yang diadakan telah menampilkan 28 pemutaran yang diselenggarakan oleh organisasi mitra ReelOzInd! di kedua negara, dari Bega sampai ke Bandung, Sydney ke Surabaya, dan Palangkaraya ke Perth dan seterusnya.

Tambahan lainnya pada 2019 adalah Hadiah Jim Schiller untuk Kolaborasi Terbaik antara sutradara Australia dan Indonesia; Dr Schiller adalah pionir dalam mempelajari Politik Indonesia yang juga mengajar ilmu Politik dan Asia di Flinders University di Adelaide selama lebih dari 20 tahun. Penghargaan ini dimenangkan oleh Tim Barretto dan Melanie Filler dari Australia dan sutradara Dery Prananda dari Indonesia yang film dokumenternya ‘Posko Palu’ mengisahkan kondisi anak-anak pasca Tsunami Sulawesi Selatan tahun 2018. Film ini juga memenangkan Film Dokumenter Terbaik.

“Festival kami unik. Tidak ada yang menyatukan sutradara Australia dan Indonesia untuk menunjukkan karya dan cerita mereka pada forum yang sama,” ungkap Direktur Festival dan Research Fellow AIC, Dr Jemma Purdey. “Juga tidak ada [festival] yang demokratis dan mengakar dalam cara melibatkan audiens di kedua negara. Model pop-up kami memberikan mitra penayangan – generasi baru pendukung lintas budaya – kebebasan untuk merancang acara mereka sendiri, membentuknya untuk kepentingan mereka sendiri.”

Masih dari ‘Divergensi’ (Special Mention – Young Filmmaker), disutradarai oleh Jonggi Muhammad K. Foto atas: Pada penayangan perdana ReelOzInd! 2019 di Melbourne: (kiri-kanan) Ibu Spica Tutuhatunewa, konsulat jenderal Indonesia untuk Victoria dan Tasmania; Dr Jemma Purdey, direktur festival; dan Elena Williams, mantan direktur residen untuk ACICIS. (Photo: AIC)

Selama beberapa tahun terakhir, yang menjadi anggota juri ReelOzInd! diantaranya adalah Mira Lesmana (produser), Riri Riza (sutradara), Andrew Mason (produser), Yosep Anggi Noen (sutradara), Tom Gleisner (produser), Krishna Sen (akademisi), Sonia von Bibra (eksekutif periklanan). Juri kami pada 2019 adalah jurnalis Najwa Shihab, aktor Paul O’Brien, pebisnis dan pegiat lingkungan Suzy Hutomo, jurnalis dan sutradara Nick Baker, produser Andrew Mason, direktur festival film Cika Prihadi dan akademisi Novi Kurnia.

ReelOzInd! merasa terhormat untuk bermitra dengan dengan Creative Victoria pada tahun kedua, yang telah menjadi sponsor, dan penayangan perdana di Bandung dimana Gubernur Victoria, yang terhormat Linda Dessau, membuka [acara].

“Sungguh menghangatkan hati Saya melihat hubungan yang kuat antara Australia dan Indonesia serta Negara Bagian Victoria dan Indonesia semakin diperkuat oleh kolaborasi budaya yang cerdas ini.”

“Menyadari pentingnya [ReelOzInd!] dalam membina hubungan yang lebih dekat antara para pemimpin industri kreatif, pecinta seni, mahasiswa, pemuda, dan diaspora Indonesia dan Australia, Pemerintah Victoria telah dengan bangga berkontribusi untuk acara ini,” ungkap gubernur pada pembukaan [festival] di Institut Teknologi Bandung.

Di Indonesia dan Australia, ReelOzInd! saat ini telah dikenal di antara para sutradara, dalam komunitas film dan sektor pendidikan yang relevan, dengan semakin banyaknya mitra festival keliling berkolaborasi dengan kami setiap tahunnya.

“Kami berharap melalui ReelOzInd!, kami dapat terus menceritakan kisah kedekatan [negara] tetangga dan membangun pemahaman untuk tahun-tahun mendatang,” ungkap direktur eksekutif AIC Dr Eugene Sebastian.

Dengan berlanjutnya festival keliling di Indonesia dan Australia, dengan tiga festival terakhir terjadwal di Makassar, Surabaya dan Brisbane, kami dapat melihat kembali peningkatan yang menarik dan menatap ke depan ke festival terbesar pada tahun 2020.