Ruby Challenger tidak asing dengan ReelOzInd! — film pendek pertamanya, Daily Bread, memenangkan [penghargaan] Film Terbaik dan Fiksi Terbaik pada 2018.

Tahun ini akan menandai debutnya sebagai anggota juri ReelOzInd!, dimana dia akan berkontribusi kepada festival yang telah membantu memulai karirnya.

“Saya tidak bisa mengharapkan sesuatu yang lebih baik untuk [Daily Bread]. ReelOzInd! adalah festival yang luar biasa, didorong oleh orang-orang yang bersemangat, “[ungkap] Challenger secara rinci, sangat penting dalam memberikan film pendek” peluang untuk diputar di seluruh Australia dan Indonesia. ”

“Film pendek adalah ruang ajaib dimana pembuat cerita bisa mengeksplorasi, bermain, membuat karya yang sangat menyentuh,” lanjutnya, “dan juga memiliki ruang untuk membuat kesalahan!”

Dengan latar belakang seni rupa dan mode, Ruby telah bekerja di departemen seni dan kostum dan telah memiliki banyak pameran tunggal untuk lukisannya yang [tiketnya] terjual habis. Dia mengambil inspirasi dari berbagai sumber visual untuk menginformasikan pembuatan filmnya, serta hasrat yang mendalam untuk menceritakan kisah-kisah yang memanfaatkan pengalaman manusia [secara] universal. Filmnya yang memenangkan ReelOzInd! mendokumentasikan pengalaman neneknya bertahan di kamp tawanan perang Jepang di Indonesia pada tahun 1940-an.

Kami senang menyambut Ruby dan bakatnya yang unik serta semangatnya untuk panel juri, dimana dia akan membantu memilih film pendek mana dari Australia dan Indonesia yang akan diputar di pemutaran perdana kami dan melakukan perjalanan lintas daerah dengan festival pop-up kami.

Ruby Challenger di panggung di ReelOzInd! 2018 Premiere di Melbourne, saat bicara sama Peter Krausz. (Foto: AIC)

Apakah Anda ingat film pendek pertama yang membuat Anda terkesan?

Saya tidak terlalu tertarik dengan film pendek sebelum Saya membuat Daily Bread, tapi kemudian Saya beruntung untuk dapat berkeliling dunia karenanya, dan itulah saat Saya mulai jatuh cinta dengan format [film pendek]. Saya pergi ke hampir semua penayangan dari setiap festival yang menampilkan Daily Bread! Film pendek adalah sesuatu yang luar biasa – mereka adalah suntikan informasi tetapi di atas itu, mereka memainkan hati Anda dan membuat Anda terengah-engah.

Apa hal pertama yang pernah Anda pelajari mengenai Indonesia?

Nenek Saya tumbuh dewasa di Jawa. Saya dibesarkan dengan berbagai cerita mendaki gunung, lintah di kedua kakinya dan jatuh dari pohon mangga saat mencoba mengambil buah yang paling tinggi dan segar!

Apa yang menjadi interaksi terdekat Anda dengan Indonesia?

Saya pertama kali mengunjungi [pulau] Jawa saat berusia sembilan tahun, dan Saya tidak pernah lupa dengan perasaan saat berada di tanah yang menakjubkan – pemandangannya, suara dan aromanya menghanyutkan pikiranku. Indonesia selalu terasa sangat dekat di hati karena disanalah tanah kelahiran nenekku tersayang.

Bagaimana Anda melihat peran bercerita dalam hubungan Australia-Indonesia?

Cerita membawa orang lebih dekat. Dampak membawa kedua negara kita lebih dekat melalui berbagi cerita sangat berharga. Saya pikir orang Australia memiliki lebih banyak hal untuk dipelajari tentang tetangga terdekat kita, jadi Saya melihat betapa berharganya dalam bercerita satu sama lain.

Apa yang telah berubah dalam dunia seni karena pandemi? Apakah ini menggeser rencana/prioritas Anda?

Industri film pasti terpukul, dengan semua produksi ditutup! Tetapi komunitas kami kuat dan terdiri dari individu-individu yang bersemangat dan berkomitmen – tidak akan lama sampai kita semua bangkit dan berjalan kembali! Secara pribadi, saya belum melambat karena saya sedang menempuh [gelar] Masters of Screen Arts di AFTRS, yang berspesialisasi dalam Penyutradaraan. Ini telah menjadi impian seumur hidup saya, jadi untuk menemukan diri saya ada yang mendebarkan.

Foto di atas: Ruby Challenger di filmnya ‘Daily Bread’ (2018).